A.
ARTI KARANGAN ILMIAH
Karya
Ilmiah atau tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan)
yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diperoleh
melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, dan pengetahuan orang lain
sebelumnya.
Karya
ilmiah: pernyataan sikap ilmiah peneliti.
Tujuan
karya ilmiah: agar gagasan penulis karya ilmiah itu dapat dipelajari, lalu
didukung atau ditolak oleh pembaca.
B.
Fungsi karya ilmiah:
sebagai
sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
1.
Penjelasan (explanation)
2.
Ramalan (prediction)
3.
Kontrol (control)
Hakikat
karya ilmiah: mengemukakan kebenaran melalui metodenya yang sistematis,
metodologis, dan konsisten.
Syarat
menulis karya ilmiah
1.
motivasi dan displin yang tinggi
2.
kemampuan mengolah data
3.
kemampuan berfikir logis (urut) dan terpadu (sistematis)
4.
kemampuan berbahasa
C.
Sifat karya ilmiah
formal
harus memenuhi syarat:
1.
lugas dan tidak emosional
2.
Logis
3.
Efektif
4.
efisien
5.
ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku.
D.
Jenis-jenis karya ilmiah
umum
karya ilmiah di perguruan tinggi, menurut Arifin (2003), dibedakan menjadi:
1. Makalah
adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya
berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. makalah menyajikan
masalah dengan melalui proses berpikir deduktif atau induktif.
2. Kertas
kerja seperti halnya makalah, adalah juga karya tulis ilmiah yang menyajikan
sesuatu berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Analisis
dalam kertas kerja lebih mendalam daripada analisis dalam makalah.
3. Skripsi
adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan
pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta
empiris-objektif, baik bedasarkan penelitian langsung (obsevasi lapangan, atau
percobaan di laboratorium), juga diperlukan sumbangan material berupa temuan
baru dalam segi tata kerja, dalil-dalil, atau hukum tertentu tentang salah satu
aspek atau lebih di bidang spesialisasinya.
4. Tesis
adalah karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dibandingkan dengan
skripsi. Tesis mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian
sendiri.
5.
Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang
mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data
dan fakta yang sahih (valid) dengan analisis yang terinci). Disertasi ini
berisi suatu temuan penulis sendiri, yang berupa temuan orisinal. Jika temuan
orisinal ini dapat dipertahankan oleh penulisnya dari sanggahan penguji,
penulisnya berhak menyandang gelar doktor (S3).
E.
Manfaat Penyusunan karya ilmiah
Menurut
sikumbang (1981), sekurang-kurangnya ada enam manfaat yang diperoleh dari
kegiatan tersebut.
1. Penulis
dapat terlatih mengembangkan keterampilan membaca yang efektif karena sebelum menulis
karya ilmiah, ia mesti membaca dahulu kepustakaan yang ada relevansinya dengan
topik yang hendak dibahas.
2. Penulis
dapat terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber, mengambil
sarinya, dan mengembangkannya ke tingkat pemikiran yang lebih matang.
3. Penulis
dapat berkenalan dengan kegiatan perpustakaan seperti mencari bahan bacaan
dalam katalog pengarang atau katalog judul buku.
4. Penulis
dapat meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasi dan menyajikan data dan
fakta secara jelas dan sistematis.
5. Penulis
dapat memperoleh kepuasan intelektual.
6.
Penulis turut memperluas cakrawala ilmu
pengetahuan masyarakat.
SUMBER
:
1.
Teknik Menulis Karya Ilmiah, Bambang Dwiloka,
Penerbit Rineka Cipta, 2005
2.
Pedoman Penulisan Ilmiah Proposal dan Skripsi,
Drs. M. Hariwijaya, Tugu Publisher, 2008
KEGIATAN
MENULIS DI PERGURUAN TINGGI
Kegiatan menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan
dalam seluruh proses belajar yang dialami mahasiswa selama menuntut ilmu di
perguruan tinggi, karena diharapkan akan memiliki wawasan yang lebih luas dan
mendalami mengenai topic yang ditulisnya. Beberapa keuntungan dari pelaksanaan
penulisan:
1.
Dengan
menulis kita lebih mengenali kemampuan potensi diri dan mengetahui batas
kemampuan tentang suatu topik.
2.
Melalui menulis dapat mengembangkan berbagai
gagasan melalui membandingkan fakta-fakta yang tidak pernah dilakukan.
3.
Kegiatan menulis dapat lebih banyak menyerap,
mencari, serta menguasai informasi tentang topik yang akan ditulis.
4.
Menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara
sistematik serta mengungkapkan secara tersurat, dengan demikian dapat
menjelaskan permasalahan yang belum jelas.
5.
Menulis akan dapat meninjau serta menilai
gagasan secara objektif.
6.
Dengan menulis akan mempermudah memecahkan
permasalahan, yaitu menganalisa secara tersurat dalam konteks yang lebih
konkret.
7.
Dapat mendorong belajar secara aktif.
8.
Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan
berpikir serta berbahasa secara tertib.
Tulisan
yang baik mempunyai ciri:
·
Bermakna
·
Jelas/Lugas
·
Merupakan kesatuan yang bulat
·
Singkat dan padat serta memenuhi kaidah
kebahasaan dan harus bersifat komunikatif.
Untuk menghasilkan tulisan seperti diatas harus memiliki
pengetahuan apa yang akan ditulis juga bagaimana menuliskannya, isi karangan
dan aspek –aspek kebahasaan serta tehnik penulisan.
1.
Menulis Sebagi Proses
Kegiatan
menulis ialah suatu proses penulisan dengan beberapa tahap yakni tahap
prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi. Dalam penulisan karangan yang panjang
seperti makalah penelitian, laporan akhir semester, tesis dsb tahap itu
terpisah secara lebih jelas.
a.
Tahap prapenulisan
Tahap
ini merupakan tahap perencanaan atau persiapan menulis dan mencakup beberapa
langkah kegiatan yaitu:
1.
Menentukan topiknya. Dengan pengamatan atau dari
imajinasi sendiri, karangan ilmiah harus mengenai fakta dan memilih topik perlu
diperhatikan beberapa persyaratan.
2.
Membatasi topik berarti mempersempit dan
memperkhusus lingkup pembicaraan.
3.
Menentukan bahan atau materi penulisan,
macamnya, beberapa luasnya dan darimana diperolehnya.
4.
Menyusun kerangka karangan.
b.
Tahap penulisan
Pada
tahap ini membahas setiap butir topik yang ada di dalam kerangka yang disusun dengan
menggunakan bahan-bahan yang sudah diklasifikasikan menurut keperluan sendiri.
Dalam mengembangkan gagasan menjadi suata karangan yang utuh, diperlukan bahasa
dan menguasai kata-kata yang akan mendukung gagasan yang dipahami pembaca, dan
berikut tahapan-tahapanya:
1.
Tahap Pemilihan Topik atau Pokok Bahasan
2.
Tahap Pengumpulan Informasi dan Bahan
3.
Tahap Evaluasi Informasi dan Bahan
4.
Tahap Pengelolaan Pokok-pokok Pikiran
5.
Tahap Penulisan
6.
Tahap Penyuntingan
Hal
penting dalam tahap penulisan:
1.
Gaya penulisan dalam membuat pernyataan harus
jelas dan tepat dalam penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan
impersonal.
2.
Teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari
pengetahuan yang dipergunakan dalam penulisan.
3.
Penulisan juga harus menggunakan bahasa yang
baik dan benar.
4.
Karena bersifat reproduktif, penerima pesan
harus mendapat kopi yang sama dengan si pemberi pesan.
5.
Karena bersifat impersonal, tulisan ilmiah tidak
boleh menggunakan pernyataan yang menggunakan kata ganti penulisnya.
6.
Dalam tulisan ilmiah, sering digunakan kalimat
pasif.
7.
Pembahasan secara ilmiah mengharuskan kita
berpaling kepada pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebagai premis argumentasi
(sumber kutipan).
8.
Teknik notasi ilmiah dapat menggunakan catatan
kaki, tapi lebih disarankan menggunakan taknik kutipan dan sumber rujukan.
C.
Tahap Revisi
Pada
tahap ini biasanya meneliti secara menyeluruh mengenai logika, sistematika,
ejaan, tanda baca pilihan kata, kalimat, paragraf, mengetikan catatan kaki dan
daftar pustaka.
2.
CONTOH PROPOSAL
PROPOSAL
PELAKSANAAN PENTAS SENI (PENSI) DALAM RANGKA PERPISAHAN
SISWA-SISWI KELAS XII SMAN 8 BULUKUMBA
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seni adalah salah satu kreatifitas yang patutnya kita kembangkan semakin besar. Dan salah satu cara pegembangannya melalui Pentas Seni.
OSIS SMA Negeri 8 Bulukumba akan mengadakan pentas drama bagi siswa disetiap kelasnya. Pentas drama tersebut dilakukan untuk meningkatkan apreasiasi siswa dalam dunia peran dan melatih rasa percaya diri yang hingga saat ini masih sangat kurang.
Selain itu, dance modern juga mampu mengembangkan kreatifitas siswa dalam hal tarian. Dan adapula kontes band maupun penyanyi yang akan menambah kesan semangat dalam suasana. Pentas Seni ini pula diadakan untuk menghibur siswa yang sebentar lagi akan siap menjalani ujian.
Selain itu, Pentas Seni ini juga dapat menjadi hiburan dalam rangka Perpisahan Siswa-Siswi kelas XII. Untuk itulah, OSIS merasa perlu untuk mengadakan acara ini dengan tema “Bintang Panggung Sehari”
B. Tujuan Kegiatan
Adapun tujuan kegiatan dilaksanakannya acara ini adalah :
1. Mempererat tali silaturahmi antar sesama siswa dan siswi SMA Negeri 8 Bulukumba
2. Memupuk semangat untuk bekerja sama dalam satu tujuan.
3. Meningkatkan kreatifitas siswa dalam bidang seni
4. Sebagai sarana hiburan bagi siswa.
II. ISI PROPOSAL
A. Tema
Dalam kegiatan kali ini thema yang akan kami angkat adalah “Jadi Artis Sehari’ yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk merasakan bagaimana rasanya bermain dalam dunia peran.
B. Macam-macam Kegiatan
Adapun kegiatan yang akan kami laksanakan yaitu :
1. Pentas Drama
2. Modern Dance
3. Band
C. Peserta
Peserta kali ini yang dapat mengikuti Pentas Seni adalah perwakilan masing-masing siswa kelas X dari tiap kelas SMA Negeri 8 Bulukumba.
D. Peralatan yang Dibutuhkan
1. Panggung
2. Microfon
3. Speaker/pengeras suara
4. Kostum
5. Atribut
6. Spanduk
E. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan Pentas Seni ini adalah :
1. Pentas Drama :
Tanggal: Minggu, 23 September 2014
Waktu: Pukul 16.00 WITA –18.30 WITA
Tempat: Gedung JSN 45
2. Modern dance :
Tanggal: Minggu, 23 September 2014
Waktu: Pukul 19.00. WITA – 20.35 WITA
Tempat: Gedung JSN 45
3. Band
Tanggal: Minggu, 23 September 2014
Waktu: Pukul 20.55 WITA – 21.35 WITA
Tempat: Gedung JSN 45
III. SUSUNAN ACARA
1. 14.00-14.20: Kumpul siswa di Gedung JSN 45. Kodinator: Aswar Amrul
2. 14.25-14.55: Pembukaan di Panggung PENSI. Kordinator: Elmayulianti
3. 15.00-16.00: Sambutan oleh Ketua Panitia, Ketua OSIS, Kepala Sekolah di Panggung Pensi. Kordinator: Elfyrah
4. 16.00-19.45: Acara Kegiatan Pentas, Drama Modern, DanceBand. Kordinator: Jongwoon
5. 19.50-20.00: Istirahat di Aula. Kordinator: Anggota
6. 20.00-sd Selesai: Penutup. Kordinator: Elmayulianti
IV. SUSUNAN KEPANITIAN
Pelindung: Drs. Ridwan M.pd (Kepala Sekolah)
Pengarah: Surisman S.pd
Penanggung Jawab: Muhammad Ardhan Akil (Ketua OSIS)
Ketua Panitia: Sri Elfirah Munawar
Sekretaris: Ria Puspita Sari
Bendahara: Ihfa Khaerawaty Gau
Seksi acara: Musdalifah Eka Pratiwi
Seksi Dana Usaha: Khaera Tunnisa
Seksi Humas: Eriska Amsari
Seksi Keamanan: Heriyanto
Seksi Dokumentasi: Mirnawati A
Seksi peralatan: Diliana Eka Astuti
V. ANGGARAN DANA
Dalam kegiatan Pensi kali ini, ada beberapa anggaran dana yang didapat maupun yang dikeluarkan agar pensi ini berjalan dengan baik.
Kegiatan ini diperoleh dari dana:
1. Dana kas sekolah: Rp. 300.000-
2. Dana partisipasi siswa: Rp. 1.000.000-
3. Dana sponsor AXIS: Rp.3.500.000-
4. Dana Sponsor AS: Rp.5.000.000-
5. Dana pastisipasi guru: Rp. 500.000-
Total: Rp, 10.300.000-
Biaya pengeluaran:
1. Sewa Tempat: Rp. 3.000.000-
2. Penyewaan Panggung: Rp. 2.500.000,-
3. Penyewaan Alat Musik: Rp. 1.000.000,-
4. Biaya Penataan Panggung: Rp. 200.000,-
5. Konsumsi: Rp. 500.000,-
6. Spanduk: Rp. 300.000,-
7. Lain – Lain: Rp. 250.000,-
Total: Rp. 7.750.000-
VI. PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat. Kami mengharapkan dukungan dan partisipasi dari sekolah. Semoga acara ini dapat terlaksana sebagaimana yang kita harapkan.
Atas perhatian dan kerjasama, kami ucapkan terima kasih.
SUMBER:
Penalaran
Sesuai
dengan kodratnya, manusia dibekali dengan hasrat ingin tahu. Hasrat ingin tahu
dalam diri manusia akan selalu memunculkan berbagai macam pertanyaan. Sebagai
akibatnya, manusia juga selalu berusaha mencari jawaban terhadap pertanyaan
yang muncul tadi. Hasrat ingin tahu tersebut akan terpenuhi apabila manusia
memperoleh pengetahuan baru atau mampu memecahkan masalah sebagai jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan sendiri.
Biasanya
manusia selalu berpikir jika berhadapan dengan banyak permasalahan. Akan
tetapi, tidak semua masalah membuat kita terdorong untuk memikirkannya secara
sungguh-sungguh. Kegiatan berpikir tentang sesuatu secara sunguh-sungguh dan
logis inilah yang disebut Penalaran.
Penalaran
adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan
pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis,
berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang
menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses
inilah yang disebut menalar.
Dalam
penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis
(antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut denganconsequence (konklusi).
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang
umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang
khusus. Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya
perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari
media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi
sosial dan penanda status sosial.
Ciri-ciri Penalaran
Berikut
ini merupakan ciri-ciri penalaran:
-
Adanya suatu pola berpikir yang secara
luas dapat disebut logika (penalaran merupakan suatu proses berpikir logis).
-
Sifat analitik dari proses berpikir.
Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan
langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara
analitik.
Secara detail penalaran mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut:
·
Logis, suatu penalaran harus memenuhi
unsur logis, artinya pemikiran yang ditimbang secara objektif dan didasarkan
pada data yang sahih.
·
Analitis, berarti bahwa kegiatan
penalaran tidak terlepas dari daya imajinatif seseorang dalam merangkai,
menyusun atau menghubungkan petunjuk-petunjuk akal pikirannya ke dalam suatu
pola tertentu.
·
Rasional, artinya adalah apa yang sedang
di nalar merupakan suatu fakta atau kenyataan yang memang dapat dipikirkan
secara mendalam.
Tahap-tahap Penalaran
Menurut
John Dewey, proses penalaran manusia dilakukan melalui beberapa tahap berikut:
1. Timbul
rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat,
ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
2. Kemudian
rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
3. Timbul
suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesis, inferensi atau
teori.
4. Ide-ide
pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan cara
mengumpulkan bukti-bukti (data).
5. Menguatkan
pembuktian tentang ide-ide tersebut dan menyimpulkan melalui
keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.
Metode-metode Penalaran
Deduktif
Metode
berpikir deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang
umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang
khusus. Hal ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui
sebelumnya guna mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif,
dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri
atas beberapa unsur yaitu:
1.
Dasar pemikiran utama (premis mayor)
2.
Dasar pemikiran kedua (premis minor)
3.
Kesimpulan
Jenis
penalaran deduktif yaitu:
·
Silogisme Kategorial = Silogisme yang
terjadi dari tiga proposisi.
·
Silogisme Hipotesis = Silogisme yang
terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
·
Silogisme Akternatif = Silogisme yang
terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
·
Entimen = Silogisme ini jarang ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan
hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Premis
mayor : Semua siswa SMA kelas X wajib mengikuti pelajaran Sosiologi.
Premis
minor : Bob adalah siswa kelas X SMA
Kesimpulan : Bob wajib mengikuti jam pelajaran
Sosiologi
· CONTOH PARAGRAF DEDUKTIF
Chairil
Anwar terkenal sebagai penyair. Ia disebut penyair yang membawa pembaharuan
dalam puisi. Ada yang mengatakan dia sebagai seorang individualis. Ada yang
menilai bahwa ia seorang yang kurang bermoral dan plagiat karena ada sebagian
kecil dalam gubahannya merupakan jiplakan dari puisi asing. Dalam sajak-sajaknya
yang dikumpulkan dalam "Deru Campur Debu" memperlihatkan adanya
perbedaan bentuk, corak, gaya, dan isi. Tanggapan orang terhadap Chairil
berbeda-beda. Namun, bagaimanapun ia tetap seorang penyair besar yang membawa
kesegaran baru dalam bidang puisi pada 1945.
Penarikan
kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung dan tidak
langsung.
1.
Penarikan simpulan secara langsung
Simpulan
secara langsung adalah penarikan simpulan yang ditarik dari satu premis. Premis
yaitu prosisi tempat menarik simpulan.
Simpulan
secara langsung:
1.
Semua S adalah P. (premis)
Sebagian
P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua manusia mempunyai rambut. (premis)
Sebagian
yang mempunyai rambut adalah manusia. (simpulan)
2.
Semua S adalah P. (premis)
Tidak
satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak
berbahaya. (simpulan)
3.
Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua
S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)
Semua gajah adalah bukan jerapah. (simpulan)
4.
Semua S adalah P. (premis)
Tidak
satu-pun S adalah tak P. (simpulan)
Tidak
satu-pun tak P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua kucing adalah berbulu. (premis)
Tidak
satu pun kucing adalah tak berbulu. (simpulan)
Tidak
satu pun yang tak berbulu adalah kucing. (simpulan)
2.
Penarikan simpulan secara tidak langsung
Untuk penarikan simpulan secara tidak
langsung diperlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis tersebut akan
menghasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat
umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
Jenis
penalaran deduksi dengan penarikan simpulan tidak langsung, yaitu:
1.
Silogisme
Silogisme
adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun
dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Contohnya:
-
Semua manusia akan mati
-
Ani adalah manusia
Jadi,
Ani akan mati. (simpulan)
- Semua manusia bijaksana
- Semua dosen adalah manusia
Jadi,
semua dosen bijaksana. (simpulan)
2.
Entimen
Entimen
adalah penalaran deduksi secara tidak langsung. Dan dapat dikatakan silogisme
premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contohnya
:
- Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
- Pada malam hari tidak ada sinar matahari
Pada
malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis.
- Semua ilmuwan adalah orang cerdas
- Anto adalah seorang ilmuwan.
Jadi,
Anto adalah orang cerdas.
Jadi,
dengan demikian silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, entimen juga dapat dijadikan silogisme.
Induktif
Metode
berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak
dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat
umum. Dalam penalaran induktif ini, kesimpulan ditarik dari sekumpulan fakta
peristiwa atau pernyataan yang bersifat umum.
Contoh:
Bukti
1 : logam 1 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti
2 : logam 2 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti
3 : logam 3 apabila dipanaskan akan memuai
Kesimpulan:
Semua logam apabila dipanaskan akan memuai.
Ciri-ciri Paragraf Induktif
1. Terlebih
dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
2. Kemudian,
menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
3. Kesimpulan
terdapat di akhir paragraph
4. Menemukan
Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas
5. Kalimat
utama paragraf induktif terletak di akhir paragraph
6. Gagasan
Utama terdapat pada kalimat utama
7. Kalimat
penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan
peristiwa-peristiwa khusus
8. Kalimat
penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasa utama
Jenis Paragraf Induktif :
·
Generalisasi
·
Analogi
·
Klasifikasi
·
Perbandingan
·
Sebab akibat (terbagi menjadi tiga
jenis)
-Sebab
akibat
-Akibat
sebab
-Sebab
akibat 1 akibat 2
Pengertian Paragraf Generalisasi
Kata
kunci: “General = umum”
Generalisasi
adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum
berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan
harus cukup dan dapat mewakili
Contoh
Paragraf Induktif Generalisasi
Setelah
karangan anak-anak kelas 3 diperiksa, ternyata Ali, toto, Alex, dan Burhan
mendapat nilai 8. Anak-anak yang lain mendapat 7. Hanya Maman yang 6, dan tidak
seorang pun mendapat nilai kurang. Boleh dikatakan, anak kelas 3 cukup pandai
mengarang. A.S. Broto (ed.)
Pengertian Paragraf Analogi
Analogi
adalah penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak
persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, Anda dapat menarik
kesimpulan.
Contoh
Paragraf Induktif Analogi
Sifat
manusia ibarat padi yang terhampar di sawah yang luas. Ketika manusia itu
meraih kepandaian, kebesaran, dan kekayaan, sifatnya akan menjadi rendah hati
dan dermawan. Begitu pula dengan padi yang semakin berisi, ia akan semakin
merunduk. Apabila padi itu kosong, ia akan berdiri tegak.
Pengertian Paragraf Sebab Akibat
Paragraf
hubungan sebab akibat adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan fakta
khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat.
Contoh
Paragraf Induktif Sebab Akibat
Kemarau
tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air
banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar.
Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan
para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak
mengherankan panen di desa ini selalu gagal.
Pengertian Paragraf Akibat Sebab
Paragraf
hubungan akibat sebab adalah paragraf yang dimulai dengan fakta khusus yang menjadi
akibat, kemudian fakta itu dianalisis untuk diambil kesimpulan.
Contoh
Paragraf Induktif Akibat Sebab
Hasil
panen para petani di Desa Cikaret hampir setiap musim tidak memuaskan. Banyak
tanaman yang mati sebelum berbuah karena diserang hama. Banyak pula tanaman
yang tidak berhasil tumbuh dengan baik.
Bukan
itu saja, pengairan pun tidak berjalan dengan lancar dan penataan letak tanaman
tidak sesuai dengan aturannya. Semua itu merupakan akibat dari kurangnya
pengetahuan para petani dalam pengolahan pertanian.
Pengertian Paragraf Sebab Akibat 1
Akibat 2
Dalam
paragraf hubungan sebab akibat 1 akibat 2, suatu penyebab dapat menimbulkan
serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan
akibat kedua. Demikian seterusnya hingga timbul beberapa akibat.
Contoh
Paragraf Induktif Sebab Akibat 1 Akibat 2
Baru-baru
ini petani Cimanuk gagal panen karena tanaman padi mereka diserang hama wereng.
Peristiwa ini menelan kerugian ratusan juta rupiah. Selain itu, distribusi
beras ke kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung terganggu.
Pendekatan Ilmiah (Gabungan antara
Deduktif dan Induktif)
Metode
berpikir pendekatan ilmiah adalah penalaran yang menggabungkan cara berpikir
deduktif dengan cara berpikir induktif. Dalam pendekatan ilmiah, penalaran
disertai dengan suatu hipotesis.
Misalkan
seorang siswa yang apabila sebelum berangkat sekolah telah sarapan terlebih
dahulu dalam porsi yang banyak, dia tidak akan kelaparan hingga jam pelajaran
berakhir. Secara deduktif, akan disimpulkan bahwa setiap anak yang makan banyak
tidak akan cepat lapar. Untuk menjawab kasus seperti ini, kita ajukan
pertanyaan mengapa seorang siswa cepat lapar? Untuk itu, kita ajukan hipotesis
bahwa siswa akan cepat lapar jika makanan yang dimakan kurang memenuhi standar
gizi dan energi yang dihasilkan oleh makanan tersebut sedikit. Kemudian secara
induktif kita uji untuk mengetahui
apakah hasil pengujian mendukung atau tidak mendukung hipotesis yang diajukan
tersebut.referensi / sumber: